Langsung ke konten utama

MENAWAN OH KEDUNG TUMPANG, Tulungagung

Apa kabar kalian ? Dah siap baca ceritaku lagi ? 😄 kali ini aku mau menulis kisah perjalanan travelling yang sangat singkat. Iya, singkat karena emang gak habis pikir aku kesana cuma capek di perjalanan doang. Lah kok bisa ? Simak aja yuk 😉


Okay, aku awali bagaimana drama pertikaian sebelum aku mengarah untuk berangkat ke salah satu tempat wisata di Tulungagung. Hal ini bermula dimana Herla mengajakku untuk bertemu, biasa lah ya bertemu karena rindu. Meskipun rindu juga gak akan berujung kapan finishnya (aduduuuuhh mulai deh ngebucin). 

"Emang kita mau kemana ?". Tanyaku.
"Kemana enaknya ?". (lah ditanya malah nanya balik). "Ke pantai aja yuk, Kedung Tumpang"

Dengan santai aku iyain ajakannya, sebab sudah terlalu lama juga tubuh ini berlayar di pulau kapuk (alias kasur). Mulai dong aku mandi dan bersiap diri buat kencan ke pantai.

Setelah berdandan aku menunggu kedatangan Herla. Tak perlu menunggu lama dia pun datang. Emang bisa diandelin banget deh, gak membuat aku menunggu lama. Tau sendiri lah kan ya, menunggu itu membosankan.

Bergegaslah aku melaju si kuda besi ke tujuan yaitu pantai Kedung Tumpang. Pantai ini terletak di kabupaten Tulungagung, tepatnya di desa Pucanglaban. Pantai ini sangat ramai dikunjungi dan menjadi tempat wisata rekomendasi untuk kalian yang ingin melepas penat.

Mampir juga yuk : Gunung Mini yang Galak Dari Tulungagung

Aku sendiri yang menjadi penduduk Tulungagung malah belum pernah sama sekali ke pantai Kedung Tumpang, ya ini adalah pengalaman pertamaku saat berkunjung ke sana. Di setiap perjalanan aku melihat-lihat daerah pedesaan timur kabupaten Tulungagung. Tiba-tiba si kuda putih berhenti, ku kira mogok (kayaknya gak mungkin deh kalau mogok 🙄). Ya pasti, si Herla keluarkan hp buat lihat google maps. Ini adalah momen terpenting buat aku. Iya penting banget buat nunjukin kalau aku bisa baca si penunjuk arah ini dengan benar. Ah, jadi teringat emang pernah aku dan Herla bertengkar di jalan karena aku salah membaca google maps yang berakhir kesasar di jalanan yang gelap banget. Gak ada rumah sama sekali cuman ada pohon-pohon besar. Merinding kan 😫. 

Aku sangat fokus dengan hp dan aplikasi penunjuk arah, sampai akhirnya melewati jalanan berkelok dipenuhi dengan kerindangan pohon-pohon yang identik daerah pegunungan. Aku begitu menikmati perjalanan seperti ini. Alam yang menyejukkan dan membuat suasana tenang. Oh ya, perjalanan ini menurutku lama 😫Aku berangkat dari kecamatan Kedungwaru, Tulungagung yang diperkirakan sampai ke tujuan kurang lebih setengah jam.

Lebih dekat saat hampir sampai, pemandangan laut lepas sudah terlihat. Panas teriknya matahari di perjalanan langsung terbius oleh keindahan laut biru yang terhampar luas. "Wuuuuaaaahhhh" ucapku kagum oleh ciptaan Tuhan.


Sesampainya di sana aku dan Herla tidak dimintai biaya masuk, hanya biaya parkir saja Rp. 5000., murah kan 🤩. Bisa semurah itu gak tau juga kalau dampak dari pandemi karena sepi pengunjung. Bapak parkir sempet cerita dan memberi tahu kalau tidak boleh turun di bebatuan tepi pantai, karena seminggu sebelum aku datang ke sana ada berita orang terseret ombak. Ngerii banget 🙈.

Gambar : Samitra Wisata

Pemberian nama Kedung Tumpang ini adalah karena di pantai ini terdapat kolam renang alami yang biasa disebut ceruk (kedung) oleh warga sekitar. Pantai ini adalah pantai laut lepas dimana tidak seperti pada umumnya ada pesisir pantai yang bisa kita santai untuk menikmati indahnya laut, melainkan hanya bebatuan besar dan dibawahnya laut dengan ombaknya yang menakutkan. Ombak di pantai Kedung Tumpang sangat besar, bahkan bisa sampai di atas bebatuan. Maka dari itu, para pengunjung sangat dihimbau untuk berhati-hati saat turun dan berfoto di sekitar bebatuan. Tapi tenang dulu, kita masih bisa menikmati pantai ini dari atas. Iya, para warga sekaligus mahasiswa yang pernah melakukan KKN di daerah pantai telah membangun berupa gardu untuk dapat melihat serta merasakan angin laut pantai ekstrim ini.

Gambar : Jejak Piknik


Ada yang menarik di pantai ini, terdapat papan peraturan yang bertuliskan tidak diperbolehkannya membawa buah jeruk. Begitu membaca, aku terheran ada apa dengan buah jeruk ?. Ternyata warga sekitar mempercayai buah jeruh akan mendatangkan ombak yang besar. Sebagai wisatawan yang baik memang sudah sepatutnya menghargai kearifan lokal seperti ini.

Untuk kalian yang belum pernah datang dan rencana mau berkunjung ke pantai ini agendakan jadwal di hari yang cerah ya, biar saat berfoto hasilnya bagus serta suasana jadi happy 😍




Komentar

  1. pantai selalu suak dengan ahmparan laut yang biru, asal jangan abnyak sampah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak. Btw disana bersih bangeeeet bangeeet 😍 dilihatnya lebih istimewa jadinya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALA SENJA BERPAMITAN DI WADUK WONOREJO, TULUNGAGUNG

Siapa yang suka lihat sunset atau biasanya dibilang juga anak senja ? Warga Tulungagung wajib merasakan banget dan melihat cantiknya matahari terbenam di bendungan waduk Wonorejo. Kala itu hari Jum'at, 06 November 2020 aku libur kerja. Suasana boring melanda di jam 13.26 WIB. Langsung aja jari tangan mengetik pesan lewat sosial media whatsapp yang ku kirim ke doi. "Ajakin jalan dong, main kemana gitu. Deket-deket aja gakapa." "Kemana ? Ke waduk Wonorejo mau ? Tapi sorean aja sekitar jam setengah 5 kita berangkat." "Okedeh boleh" Pesan singkatku yang pasti dan harus di berangkatkan. Sebelum berangkat tibalah dahulu berkah di hari Jum'at yaitu hujan. Pikiran dan hati udah kecewa "Yaelah gak jadi berangkat ", sampai doi bilang " Tunggu aja pasti berenti nanti ". Alhamdulillah emang bener tepat di jam 16.00 WIB hujannya berhenti. Gaskeun prepare dong 🏃‍♀ Pukul 16.30 WIB doi dah sampai rumah menunggu tuan putrinya selesai berdandan ...

Cobain Masternya Ramen Gurih di Ramen Master !

Hai.. ini jadi episode pertama terkait kuliner yang akan aku tulis. Untuk bercerita terkait tempat-tempat kuliner sebenarnya sudah dari dulu, tapi paham sendiri lah ya namanya anak muda kalau udah lama rebahan pasti males-malesan. Di episode pertama ini aku akan me review masakan Jepang yaitu Ramen. Cerita awalnya adalah aku merasa penasaran sama rasa dan tempatnya karena gak pernah sepi bahkan sampai antri panjang. Nama restorannya adalah Ramen Master. Gak heran juga sih karena restoran dengan model Jepang ini sudah buka cabang dimana-mana yaitu Malang, Blitar, Mojokerto, Batu, dan Tulungagung. Tempatnya menurutku sangat tenang dengan nuansa Jepang dan cukup aestethic . Para waitress nya juga berpakaian ala-ala Jepang. Gak setengah-setengah deh konsepnya. Untuk menu makanannya juga banyak varian. Bingung juga mau nyebutin satu-persatu. Terkait rasa beneran gurih enak banget suwer deh. Kalau lagi pingin makan ramen kayaknya bakal balik lagi ke sana deh 🥰 maaf banget ya aku review te...

Low Budget Wisata Sejarah Candi Termegah di Jawa Timur

Pagi itu rasanya sangat jenuh berdiam di rumah. Ingin keluar jalan-jalan tapi juga mikir gak ada uang 😂 emang udah jadi masalah ya kalau soal finansial. Tetapi rasa ingin berkunjung ke tempat wisata selalu terngiang. Akhirnya ku beranikan untuk nekat pergi ke luar rumah guna berwisata. " Mbak, ayoh jalan-jalan ", ajakku kepada kakak keponakan yang seusia denganku. Ya, memang sudah menjadi partner ngapain aja. Selain seumuran rumah kita emang deket. " Kemana ? Kalau ke pantai males ah ". Mendengar jawabannya yang males ke pantai, aku berfikir untuk melakukan perjalanan ke wisata bersejarah. Sebelum itu, aku melakukan riset (yaelah riset, bilang aja stalking destinasi wisata) di kabupaten Blitar. Setelah menelusuri foto-foto destinasi wisata, aku tertarik untuk berkunjung di sebuah situs bersejarah kabupaten Blitar yaitu Candi Penataran. Si mbak setuju dengan ide wisata yang ku canangkan ini dan bersiap untuk berangkat. Setelah bersiap, aku dan mbak ...