Langsung ke konten utama

Gunung Budheg: Gunung Mini yang Galak Dari Tulungagung


Liburan terbaik bukan soal kemewahan, tetapi soal kebersamaan. Itulah kalimat yang pas untuk awal dari ceritaku kali ini. Sebuah cerita perjalanan bersama kawan-kawan di Gunung Budheg.

Gunung Budheg merupakan salah satu gunung yang berada di Tulungagung, tepatnya di desa Tanggung, kecamatan Campurdarat. Gunung dengan ketinggian 585 mdpl ini menyajikan pemandangan indah kota Tulungagung dari atas. Meski tingginya juga gak seberapa, namun tempat wisata ini tetap memiliki daya tarik para wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung.

Pada hari dimana aku tetap merasakan kebosanan di rumah dan terpaku di dalam kamar, salah satu kawanku mengirim pesan mengajak bersilaturahmi dengan dinginnya puncak. Dengan semangat aku mengiyakan ajakan tersebut.

Hasrat kegiranganku untuk merasakan kembali indahnya malam dari atas gunung mulai membara ketika kawanku sampai rumah.

Perjalananku bergabung dengan komunitas Pokok Budal Adventure (ig @pokokbudaladventure). Sebuah komunitas yang anggotanya para backpacker alam. Mereka sangat friendly, padahal kenal juga baru pertama kali tapi udah akrab dan asyik. Oleh karena itu, aku juga jadi humble dengan orang-orang modelan begini.

Keberangkatan dimulai malam pukul 18.30 WIB (ba'da Maghrib). Ada beberapa dari kawan-kawan yang berangkat terpisah denganku, sebab rumah kami yang gak semuanya searah. *ee tapi satu tujuan, kayak hati aku ke kamu 😎. Dalam hati aku seneng banget, keren aja gitu berangkat muncak malam-malam bersama orang-orang yang asyiknya upnormal. Selain itu yang bikin nyaman dalam perjalananku kali ini adalah barang bawaan. Aku tidak terlalu membawa banyak peralatan camp, bahkan juga tidak banyak membawa bekal makanan. *tau sendiri lah kalau jalan sama cowok tinggal ikut aja, berangkat nyaman pulang kenyang 😄.

Tibalah di tempat tujuan. Aku dan kawan-kawan yang lain berkumpul di salah satu tempat parkir. Setelah semua lengkap, dibikin heran aja karena ceweknya cuma 3 orang termasuk aku. Takut sih enggak, tapi malah merasa luar biasa 😄. Aku yakin aja, para cowok yang suka banget backpacker ini gak akan macem-macem sama cewek imut aku ini 🙈. 

Sebelum mulai mendaki, semuanya berdoa agar selama perjalanan diberi keselamatan. Setelahnya, kami lanjut ke pendakian. Suara jangkrik mengiringi setiap langkah. Belum dapat setengah jalan, kami melewati tempat yang katanya keramat. *tenang, gak usah takut kan ada cowok-cowok hehe (ganjen amat sih). Biar tidak bosan di setiap perjalanan, sesekali para cowok mengajukan pertanyaan padaku, kadang juga banyolan gombal ala fuckboy. *maklum kan baru pertama kenal, jadi butuh pendekatan.

Meski ketinggian Gunung Budheg bisa dibilang rendah, tapi track menuju puncak sangat ekstrim. Jalan sempit yang sisinya bebatuan besar miring ke arah jurang merupakan track yang cukup menegangkan, apalagi malam-malam dengan pencahayaan yang hanya dari seupil senter.


Tanjakan demi tanjakan membuat aku dan kawan-kawan kelelahan. Nyaris track di gunung mini ini sangat menguras tenaga, tidak bisa diremehkan. Saat posisi sudah hampir sampai puncak, aku dan kawan semuanya memutuskan beristirahat sejenak di tempat yang datar namun disajikan pemandangan luas kabupaten Tulungagung. Di tempat ini, memang sudah bisa melihat kerlap-kerlip lampu malam. Selain itu juga biasa digunakan tempat istirahat dan sholat.

*Wuuussshhh.. Wangi bunga kantil tiba-tiba tercium. Sudah menjadi bumbu dalam setiap perjalanan wisata alam apalagi malam-malam begini, membuat bulu kuduk merinding. Tak menghiraukan bau bunga kantil, aku dan kawan-kawan melanjutkan perjalanan.


Semangat menuju puncak, sudah terbayar dengan sejuk dinginnya malam gunung penuh mitos ini. Sekejap melihat gaji keindahan yang disajikan, kami melanjutkan untuk pemasangan tenda.

Pemilihan keberangkatan malam hari memang disengaja agar tidak terlalu lelah dengan teriknya matahari, selain itu karena ingin melihat pemandangan indah malam hari & sunrise tanpa berlama-lama. 


Setelah semua siap, kami mulai menghangatkan badan. Menyalakan kompor, memasak mie, membuat kopi, bernyanyi dan bercengkerama satu sama lain. Asyik ?? PASTI. Obrolan yang saling bercanda membuat suasana hati makin riang.


Menjelang pagi, kami masih terjaga dengan obrolan panjang yang tiada henti menyeruput kopi. Kami bergegas melakukan ritual matahari terbit. Menatap tirai yang dibuka oleh Tuhan mengawali indahnya pagi hari. Sebuah anugerah dan perjuangan para pendaki untuk bisa melihat keagungan Illahi.

Waktu terus berputar, matahari mulai menyengat. Tiba saatnya kami untuk bergegas mengemasi barang-barang kembali ke rumah singgah yang juga di rindukan. Perjalanan pulang sangat santai dengan memandangi pemandangan pepohonan dan rerumputan kering. Sesekali kami berhenti untuk mengabadikan momen beserta keindahan Gunung Budheg.


Gunung mini dari Tulungagung, terimakasih atas sajian yang telah diberikan. Tanjakan yang egois, jangkrik yang bernyanyi featuring merdu suara burung hantu, serta semerbak harum bunga kantil menjadi teman di perjalananku. Tetaplah menjadi alam yang bersih dan sampai jumpa di pertemuan yang akan datang. ❤

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALA SENJA BERPAMITAN DI WADUK WONOREJO, TULUNGAGUNG

Siapa yang suka lihat sunset atau biasanya dibilang juga anak senja ? Warga Tulungagung wajib merasakan banget dan melihat cantiknya matahari terbenam di bendungan waduk Wonorejo. Kala itu hari Jum'at, 06 November 2020 aku libur kerja. Suasana boring melanda di jam 13.26 WIB. Langsung aja jari tangan mengetik pesan lewat sosial media whatsapp yang ku kirim ke doi. "Ajakin jalan dong, main kemana gitu. Deket-deket aja gakapa." "Kemana ? Ke waduk Wonorejo mau ? Tapi sorean aja sekitar jam setengah 5 kita berangkat." "Okedeh boleh" Pesan singkatku yang pasti dan harus di berangkatkan. Sebelum berangkat tibalah dahulu berkah di hari Jum'at yaitu hujan. Pikiran dan hati udah kecewa "Yaelah gak jadi berangkat ", sampai doi bilang " Tunggu aja pasti berenti nanti ". Alhamdulillah emang bener tepat di jam 16.00 WIB hujannya berhenti. Gaskeun prepare dong 🏃‍♀ Pukul 16.30 WIB doi dah sampai rumah menunggu tuan putrinya selesai berdandan ...

Cobain Masternya Ramen Gurih di Ramen Master !

Hai.. ini jadi episode pertama terkait kuliner yang akan aku tulis. Untuk bercerita terkait tempat-tempat kuliner sebenarnya sudah dari dulu, tapi paham sendiri lah ya namanya anak muda kalau udah lama rebahan pasti males-malesan. Di episode pertama ini aku akan me review masakan Jepang yaitu Ramen. Cerita awalnya adalah aku merasa penasaran sama rasa dan tempatnya karena gak pernah sepi bahkan sampai antri panjang. Nama restorannya adalah Ramen Master. Gak heran juga sih karena restoran dengan model Jepang ini sudah buka cabang dimana-mana yaitu Malang, Blitar, Mojokerto, Batu, dan Tulungagung. Tempatnya menurutku sangat tenang dengan nuansa Jepang dan cukup aestethic . Para waitress nya juga berpakaian ala-ala Jepang. Gak setengah-setengah deh konsepnya. Untuk menu makanannya juga banyak varian. Bingung juga mau nyebutin satu-persatu. Terkait rasa beneran gurih enak banget suwer deh. Kalau lagi pingin makan ramen kayaknya bakal balik lagi ke sana deh 🥰 maaf banget ya aku review te...

Low Budget Wisata Sejarah Candi Termegah di Jawa Timur

Pagi itu rasanya sangat jenuh berdiam di rumah. Ingin keluar jalan-jalan tapi juga mikir gak ada uang 😂 emang udah jadi masalah ya kalau soal finansial. Tetapi rasa ingin berkunjung ke tempat wisata selalu terngiang. Akhirnya ku beranikan untuk nekat pergi ke luar rumah guna berwisata. " Mbak, ayoh jalan-jalan ", ajakku kepada kakak keponakan yang seusia denganku. Ya, memang sudah menjadi partner ngapain aja. Selain seumuran rumah kita emang deket. " Kemana ? Kalau ke pantai males ah ". Mendengar jawabannya yang males ke pantai, aku berfikir untuk melakukan perjalanan ke wisata bersejarah. Sebelum itu, aku melakukan riset (yaelah riset, bilang aja stalking destinasi wisata) di kabupaten Blitar. Setelah menelusuri foto-foto destinasi wisata, aku tertarik untuk berkunjung di sebuah situs bersejarah kabupaten Blitar yaitu Candi Penataran. Si mbak setuju dengan ide wisata yang ku canangkan ini dan bersiap untuk berangkat. Setelah bersiap, aku dan mbak ...